SAMPANG- Masih adanya hujan di awal bulan Juli, membuat petani garam di Madura belum dapat memproduksi garam secara maksimal, khususnya merka yang berasal kota Sampang, Sreseh dan Peangarengan.
Sehingga lahan kering, yang seharusnya telah dapat diisi air asin, kini tergenang air hujan dan membutuhkan proses pengeringan kembali.
Hal tersebut membuat para petani garam bersedih. Pasalnya, sejak awal Bulan Juni lalu, mereka telah melakukan persiapan alat dan hingga pengeringan lahan.
Salah seorang petani garam Asal Sreseh Usman mengatakan, untuk tahun ini musim kemarau masih belum bisa ditebak berdasarkan da-tanda hitungan tradisonal.
"Karna melihat tahun kemaren bulan juli sudah panen garam. Tapi sekarang masih diguyur hujan," katanya.
Selain itu, menurutnya angin masih belum jelas arahnya, kadang dari timur yang mana menandakan sudah kemarau, namun terkadang juga dari arah berlawanan, seakan menandakan masih musim hujan.
Sehingga kincir angin yang menjadi alat memproduksi garam pun, tidak maksimal putarannya dalam mengola air asin.
"Lebih-lebihnya hujan yang selalu mengguyur lahan," ucapnya. Selasa (5/7/2022).
Sementara itu, hal senada juga diungkapkan oleh petani garam asal Pengarengan, yang tidak ingin disebutkan namanya. Menurutnya musim hujan di Bulan Juli membuat produksi garam tidak maksimal.
"Kami masih belum maksimal dalam membuat garam di bulan Juni dan juli 2022, di karenakan masih hujan," tandasnya. (Rosy/Wil)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Redaksi |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi